09 September 2012

NADIA TARSANTO

Adalah seorang ibu dari 4 orang anak dan istri dari seorang pegawai negeri kementerian luar negeri yang saat ini menjabat sebagai Konsul Jenderal HCMC yaitu bapak Bambang Tarsanto. Dua anak tertua mereka sudah bekerja di Jakarta. Sedangkan adiknya, Adil, yg pernah menetap di HCMC, saat ini pindah sekolah ke Trisakti di Jakarta mengambil jurusan yang lebih sesuai dengan bakatnya (Adil ini punya bakat besar di bidang kuliner lho, kebetulan team editorial sudah merasakan sendiri kue racikannya).

Dan yg terakhir adalah Amirul, tinggal bersama mereka dan bersekolah di SSIS kelas 12. Beliau bercerita bahwa saat yang paling membahagiakan bagi keluarga mereka adalah di mana mereka semua bisa berkumpul dan berlibur bersama. Namun sayangnya hal itu amat jarang terjadi, karena pada saat tugas di luar Indonesia, mereka harus berpencar dari anak2.

Kita semua adalah sebagai duta bangsa yang akan menjadi cerminan bangsa kita di tanah rantau ini.

Bernama lengkap Nadia Sandra Dewi Tarsanto, wanita yang terlahir dari keluarga campuran asal Sumatera Barat, Banten dan Purworejo ini sebenarnya sangat menyukai kegiatan olahraga, walaupun sejak cedera tulang punggung tinggal olahraga berenang yg bisa saya lakukan.
Mungkin ini juga yang membuat beliau tampak selalu bugar dan awet muda.
Saya suka bermain musik, piano, walaupun bisanya hanya sekedarnya saja.
Saya juga suka melukis, walaupun lukisan-lukisan saya baru taraf belajar, juga saya suka membaca, walaupun buku-buku yg saya baca sangat lambat selesai terbacanya.

Karena kedua orangtuanya lahir dan besar di Jakarta, beliau terbiasa menikmati suasana Jakarta yang lebih sepi setiap lebaran, apalagi pembantu di rumah juga ikut mudik. Setelah menikah barulah beliau ikut merasakan suasana mudik lebaran, “Karena mertua saya berada di Solo” tuturnya. Sebelumnya, setiap Lebaran saya selalu kesepian di Jakarta, jalanan di ibu kota juga sangat lengang sehingga terasa suasana khas setiap tahunnya seperti itu.

Karena bertugas di Departemen Luar Negeri, beliau sudah terbiasa melanglang buana ke berbagai tempat penugasan hingga akhirnya mereka sekeluarga terdampar di bumi Vietnam ini setelah terombang ambing di berbagai kemungkinan untuk tinggal di benua lain. Namun saat sebelum kami dengar bahwa akan ke Vietnam, hati kecil saya seperti menginginkan sesuatu yg lain yg belum pernah kami alami. Karena selama ini kami selalu berlabuh di negara-negara Barat, sampai kurun waktu hampir 5 tahun di setiap negaranya. Kami tiba di Ho Chi Minh City dipertengahan bulan Agustus 2 tahun yg lalu. Masih sering bertanya tentang banyak hal mengenai kota dan negara ini, tapi tidak terasa kami tinggal menyelesaikan sisa-sisa waktu tugas kami di sini.

M : Bisa bercerita sedikit suka & duka selama tinggal di Vietnam?
"Hal yg paling sering menghambat selama di Vietnam adalah bahasanya. Saya pernah kursus bahasa Vietnam 1 bulan, setiap hari 2 jam. Tapi nyerah juga akhirnya karena lambat sekali majunya. Tapi saya merasakan kesamaannya dengan orang Indonesia karena mereka ramah. Makanannya enak-enak tapi suka membosankan, karena variasinya tidak banyak. Jadi sering kangen sama tukang gado-gado di pojokan jalan di Jakarta, atau siomay langganan yg suka lewat. Apalagi sate kambing Jono di Pejompongan.. Wah emang makanan Indonesia 'numero uno'. Masyarakat Indonesia di HCMC amat sangat menyenangkan karena aktif dan banyak kegiatan."

M: Pesan atau harapan yang ingin Ibu sampaikan untuk Masyindo HCMC dan pembaca website.
"Untuk teman-teman Masyindo di HCMC, saya salut karena kompak dan kreatif dalam membuat berbagai kegiatan yang positif. Terhadap masyarakat Vietnam, tentunya kita semua adalah sebagai duta bangsa yang akan menjadi cerminan bangsa kita di tanah rantau ini."


bersama Ibu-Ibu masyindo di HCMC


0 Testimoni:

Testimonial

Server kami membutuhkan beberapa saat agar komentar bisa tersimpan dengan baik di halaman website ini. Silahkan klik tombol 'publish' agar komentar anda bisa ditayangkan.